Tanggapi Perekonomian Global, Jokowi : “Winter is Coming”

Dengan menggunakan film serial fantasi “Game of Thrones” sebagai gambaran, Presiden Joko Widodo mengatakan “winter is coming” dalam perekonomian dunia. Hal ini disampaikannya dalam pembukaan Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia, di Nusa Dua – Bali, Jumat (12/10). Dalam sambutannya, Jokowi menyerukan masyarakat dunia tetap waspada terhadap peningkatan risiko dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ketidakpastian global.  “Seperti yang disampaikan Ibu Christine Lagarde terhadap banyak masalah yang membayangi perekonomian dunia. Amerika Serikat menikmati pertumbuhan yang pesat tetapi di banyak negara terdapat pertumbuhan yang lemah dan tidak stabil,” kata Jokowi, merujuk pada Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.  “Perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh mengalami tekanan pasar yang besar. Dengan banyak masalah perekonomian dunia, sudah cukup kita mengatakan bahwa “winter is coming,” ujarnya. ​Keretakan Aliansi Negara Maju Picu Masalah Ekonomi Joko Widodo menyoroti keretakan dalam aliansi negara-negara ekonomi maju dan lemahnya kerja sama sebagai penyebab terjadinya masalah ekonomi.  “Balance of power dan aliansi di antara negara-negara ekonomi maju tampaknya sedang mengalami keretakan. Lemahnya kerja sama dan koordinasi telah menyebabkan terjadinya banyak masalah, seperti peningkatan drastis harga minyak mentah dan kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang,” ujar presiden di hadapan ratusan hadirin yang memadati acara pembukaan itu. Selain Lagarde, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim juga menghadiri acara tersebut. Lebih jauh Jokowi mencontohkan beberapa ancaman global signifikan, antara lain perang dagang, perubahan iklim, dan sampah plastik di laut; “yang hanya bisa kita tanggulangi jika kita bekerja sama.” Untuk itu, ujarnya, ini yang saat yang tepat untuk mempertanyakan apakah sekarang saatnya untuk rivalitas dan kompetisi, atau kerjasama dan kolaborasi.  “Apakah kita terlalu sibuk bersaing dan menyerang satu sama lain sehingga gagal menyadari adanya ancaman besar yang membayangi kita semua. Apakah kita gagal menyadari ancaman besar yang dihadapi negara kaya maupun miskin, negara besar atau kecil,” kata Jokowi menambahkan.  Ia menggarisbawahi bahwa konfrontasi akan mengakibatkan penderitaan, bukan siapapun. “Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar di tengah dunia yang tenggelam,” katanya menegaskan. Joko Widodo juga menyerukan kepada seluruh pengambil kebijakan keuangan dunia yang sedang bersidang di Bali untuk menjaga komitmen kerjasama global dan mendorong para pemimpin negara untuk mengambil tindakan yang tepat.  “Diperlukan kebijakan moneter dan fiskal yang mampu menyangga dampak perang dagang, disrupsi teknologi dan ketidakpastian pasar,” ujar Jokowi menutup pidatonya. Sorotan Dunia Pidato ini menjadi sorotan dunia. Direktur Eksekutif Bank Dunia Frank Heemskerk mencuit “... pesan kunci : konfrontasi dan pertentangan akan menimbulkan penderitaan bagi pihak yang menang dan kalah.” Hal senada juga disampaikan Anthony De Lannoy, salah seorang Direktur Eksekutif IMF, yang mengatakan “pidato inspiratif oleh Presiden Jokowi tentang kerja sama global dalam pertemuan tahunan. Ia mengatakan hubungan diantara negara-negara maju telah menjadi seperti Game of Thrones, dan mereka gagal melihat datangnya ancaman global.” Duta Besar Belanda Untuk Indonesia Rob Swartbol menyebut pidato “yang berpihak pada kerja sama internasional” itu sangat luar biasa. Pidato Presiden Joko Widodo disambut standing ovation atau tepuk tangan sambil berdiri, menandakan kekaguman hadirin padanya, suatu hal yang jarang terjadi pada pertemuan internasional seperti ini. [em]