Pengunduran Diri Dubes Inggris untuk AS Timbulkan Kontroversi

Pengunduran diri Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Kim Darroch, Rabu lalu (10/7), setelah pernyataannya yang terus terang mengenai Presiden Amerika Donald Trump dalam telegram diplomatik rahasia, telah menimbulkan kontroversi. Pernyataan Darroch bocor ke media berita pada hari Minggu. Trump kemudian mencuitkan ketidakpuasannya terhadap Darroch dan perdana menteri Inggris yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Theresa May. Kim Darroch, seorang diplomat karier, Rabu (10/7) menyatakan mengundurkan diri sebagai duta besar Inggris untuk Amerika yang dijabatnya sejak 2016. Akhir pekan lalu, "The Daily Mail"  melaporkan tentang telegram diplomatik yang bocor, di mana Darroch menyebut Presiden Trump “tidak kompeten” dan “merasa tidak aman.” Trump menanggapinya hari Senin (8/7), dengan mencuitkan cercaan mengenai Darroch dan mengolok-olok cara perdana menteri Inggris Theresa May menangani Brexit. Sementara itu di parlemen Inggris, May, yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, memuji Darroch. "Saudara Ketua, pagi ini saya telah berbicara dengan Sir Kim Darroch. Saya telah mengatakan kepadanya bahwa sangat disesalkan ia memandang perlu untuk meninggalkan posisinya sebagai duta besar untuk Washington. Sir Kim telah mengabdikan diri seumur hidupnya untuk Inggris dan kita berutang budi yang sangat besar padanya,” kata May. Para anggota parlemen Inggris juga memberi dukungan yang luas untuk Darroch. "Menurut saya seluruh majelis harus bersatu dalam menunjukkan penyesalan mendalam atas perasaan bahwa ia jelas harus mengundurkan diri sekarang ini,” kata tokoh oposisi Jeremy Corbyn. Pada hari Senin lalu, di arena debat di Manchester, kandidat-kandidat utama untuk posisi perdana menteri mendatang Inggris membicarakan tentang dampak telegram diplomatik yang bocor. Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt yang juga kandidat perdana menteri, mengatakan, "Kadang-kadang hal-hal yang harus kita sampaikan kepada teman-teman kita ada baiknya tidak kita sampaikan, seperti yang saya katakan kepada Presiden Trump hari ini, karena menurut saya komentar-komentarnya mengenai Theresa May tidak dapat diterima sama sekali dan menurut saya ia tidak seharusnya mengemukakan pernyataan itu." Sementara itu Boris Johnson, mantan menteri luar negeri yang juga merupakan kandidat perdana menteri, mengemukakan, "Menurut saya penting sekali saran yang diberikan pegawai negeri kepada para menteri tidak dibocorkan oleh para menteri dan tidak boleh dikomentari oleh para menteri agar pegawai tersebut merasa bebas memberikan saran itu secara netral seperti yang mereka inginkan.” Di Washington, Rabu (10/7), anggota DPR Amerika Adam Schiff, seorang pengkritik Trump yang vokal, merilis pernyataan bahwa upaya presiden “yang terus menerus untuk menggertak sekutu-sekutu kita dan diplomat mereka telah mengganggu tugas para lelaki dan perempuan yang kita kirim ke luar negeri untuk mewakili Amerika Serikat.” Pernyataan senada juga dikemukakan mantan diplomat Amerika, Alexander Vershbow. Vershbow melalui Skype mengemukakan, "Ini jelas memberi contoh yang sangat buruk bahwa kepala negara Amerika Serikat pada dasarnya dapat mengeluarkan, mengusir duta besar sekutu terdekat kita.” Theresa May akan meletakkan jabatan sebagai perdana menteri setelah pemilihan penggantinya, kemungkinan dalam beberapa pekan mendatang. Sementara itu, kantor perdana menteri telah memerintahkan penyelidikan mengenai sumber kawat diplomatik yang bocor itu. [lt/uh]