Demo Anti-Pemerintah Berlanjut di Georgia, Meski Ada Reformasi

Ribuan pengunjuk rasa berdemonstrasi di Ibu Kota Georgia pada Senin (24/6) untuk hari kelima berturut-turut menyerukan reformasi pemerintah, pemilihan umum dan pengunduran diri menteri dalam negeri negara itu. Pada Senin, pemimpin partai Dream Georgia yang berkuasa mengumumkan "reformasi politik berskala besar." "Kami akan memiliki parlemen di mana semua aktor politik yang ada akan dihormati," kata Ketua Partai Mimpi Georgia Bidzina Ivanishvili. Ivanishvili mengumumkan bahwa pemilihan parlemen tahun depan akan diselenggarakan dalam sistem perwakilan proporsional. Namun, pengumuman Ivanishvili tidak memuaskan tuntutan pemrotes. Protes dimulai pada Kamis (20/6), sebagai tanggapan atas kunjungan legislator Rusia ke parlemen Georgia. Sergey Gavrilov, seorang anggota parlemen Rusia, mengunjungi Georgia untuk berpartisipasi dalam Sidang Umum Majelis Antar Parlemen ke-26 tentang Ortodoksi, sebagai anggota utusan Rusia. Demonstran berusaha menyerbu gedung dan polisi merespons dengan menembakkan peluru karet dan meriam air.Sebanyak 240 orang terluka dan lebih dari 300 demonstran ditangkap. Hubungan Rusia-Georgia tegang, menyusul perang singkat, namun berdarah pada 2008. Setelah tanggapan polisi itu, para pemrotes bergerak lagi, menyerukan pembebasan para demonstran yang ditahan dan pengunduran diri Gakharia, yang oleh banyak kalangan dianggap bertanggung jawab atas bentrokan antara demonstran dan polisi.  Selama demonstrasi, protes meluas menjadi gerakan yang lebih besar menentang apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai kontrol oligarkis terhadap politik Georgia. Demonstrasi itu telah menyebabkan pengunduran diri ketua parlemen, Irakli Kobakhidze, meskipun para demonstran menginginkan reformasi yang lebih besar. Demonstrasi diperkirakan akan berlanjut, karena Ivanishvili menekankan kekerasan dipimpin oleh partai-partai oposisi, sebuah tuduhan yang dibantah oleh oposisi. [my/pp]