Anggota Kongres Muslim, Ilhan Omar Hadapi Ancaman Pembunuhan

Anggota DPR dari faksi Demokrat Ilhan Omar mengatakan telah mengalami peningkatan ancaman pembunuhan beberapa hari setelah Presiden Amerika Donald Trump memasang video yang mengecam keras pernyatannya tentang serangan teroris 11 September 2001. Dalam sebuah pernyataan Minggu malam (14/4), anggota DPR dari negara bagian Minnesota Ilhan Omar mengatakan kebanyakan ancaman terhadapnya merujuk pada pernyataan dan video yang dipasang Trump di Twitter pada hari Jumat (12/4). Omar juga merujuk pada peningkatan aksi kekerasan dan aksi kebencian oleh ekstremis sayap kanan di Amerika dan tempat-tempat lain di seluruh dunia, dengan mengatakan “kita tidak lagi bisa mengabaikan bahwa tindakan-tindakan itu memang didorong oleh Trump.” Sehari sebelumnya juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders membantah bahwa Trump menghasut aksi kekerasan dan Islamophobia. “Tentu saja presiden tidak punya niat buruk, apalagi melakukan aksi kekerasan apapun terhadap siapa pun. Tetapi presiden harus bersuara terhadap perempuan anggota Kongres ini, yang bukan sekali ini saja tetapi memang memiliki sejarah menyampaikan pernyataan anti-Yahudi. Pertanyaan besarnya justru mengapa faksi Demokrat tidak melakukan hal yang sama? Hal itu benar-benar menjijikkan. Bagaimana mungkin ia (Ilhan Omar.red) terus menerus menyampaikan pernyataan seperti itu, sementara mereka (faksi Demokrat.red) mengesampingkannya,” kata Sarah. Dalam pidato yang berapi-api di hadapan Dewan Hubungan Islam-Amerika CAIR, Omar berbicara secara terbuka menentang diskriminasi dan kecurigaan terhadap warga Muslim. Ia mengatakan CAIR didirikan pasca serangan teroris 11 September 2001 karena “melihat bagaimana akibat sejumlah orang melakukan sesuatu, kita semua mulai kehilangan akses pada kebebasan sipil kita.” Cuitan Trump hari Jumat menunjukkan potongan pernyataan Omar di CAIR itu tentang “sejumlah orang melakukan sesuatu,” yang disandingkan potongan video serangan teroris 11 September 2001 berdurasi 40 detik, atau jauh lebih lama dibanding potongan pernyataan Omar. Trump juga menulis kalimat “Kami Tidak Pernah Lupa.” Mereka yang mengecam Omar menggunakan sebagian pernyataannya itu untuk menuduhnya sebagai sosok yang meremehkan kemanusiaan dalam serangan tahun 2001 itu, tanpa menyebutkan sisa pidatonya. Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan kenangan atas serangan teroris itu “merupakan hal yang sakral dan diskusi apapun sedianya dilakukan dengan hati-hati.” Pelosi juga menyebut video Trump itu “kasar dan berbahaya” dan mengatakan video itu seharusnya tidak lagi dipasang di cuitannya. (em)